Vitamin B kompleks terdiri dari sejumlah vitamin yang berperan penting dalam menjaga metabolisme, sistem saraf, pembentukan sel darah, hingga produksi energi. Pada umumnya, kebutuhan vitamin B dapat dipenuhi melalui pola makan yang beragam dan seimbang.
Meski begitu, ada kelompok tertentu yang lebih berisiko mengalami kekurangan vitamin B. Kondisi kesehatan, usia, pola makan, kehamilan, hingga penggunaan obat-obatan tertentu dapat memengaruhi kebutuhan atau penyerapan vitamin ini.
Karena itu, suplemen vitamin B kompleks tidak selalu dibutuhkan oleh semua orang. Penggunaan suplemen sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing.
Siapa yang Berisiko Kekurangan Vitamin B Kompleks?
Berikut beberapa kelompok yang perlu lebih memperhatikan kecukupan asupan vitamin B.
1. Ibu Hamil dan Menyusui
Kebutuhan beberapa jenis vitamin B, terutama folat (B9) dan vitamin B12, meningkat selama kehamilan. Folat sangat penting untuk mendukung pembentukan dan perkembangan sel serta membantu menurunkan risiko cacat tabung saraf pada janin.
Kebutuhan nutrisi tertentu juga tetap perlu diperhatikan setelah melahirkan, terutama pada masa menyusui. Jika terdapat risiko kekurangan, dokter dapat merekomendasikan suplemen sesuai kondisi ibu.
2. Lansia
Pertambahan usia dapat memengaruhi kemampuan tubuh menyerap vitamin B12 dari makanan. Salah satu faktornya adalah berkurangnya produksi asam lambung pada sebagian orang lanjut usia.
Selain itu, perubahan nafsu makan atau pola konsumsi makanan juga dapat membuat asupan vitamin B12 menjadi kurang optimal.
Karena itu, lansia perlu memperhatikan sumber vitamin B12 dalam makanan. Jika terdapat dugaan kekurangan, pemeriksaan dan saran tenaga kesehatan dapat membantu menentukan apakah diperlukan suplemen.
3. Orang dengan Kondisi Medis Tertentu
Beberapa penyakit atau kondisi kesehatan dapat meningkatkan risiko kekurangan vitamin B. Contohnya adalah penyakit celiac, penyakit Crohn, hipotiroidisme, dan gangguan makan tertentu.
Orang yang pernah menjalani prosedur operasi bariatrik atau operasi penurunan berat badan tertentu juga dapat mengalami perubahan penyerapan nutrisi.
Pada kelompok ini, kebutuhan vitamin sebaiknya tidak ditentukan hanya berdasarkan perkiraan. Dokter dapat melakukan evaluasi berdasarkan kondisi kesehatan dan, bila diperlukan, pemeriksaan laboratorium.
4. Vegetarian dan Vegan
Vitamin B12 secara alami terutama terdapat pada makanan dari sumber hewani, seperti daging, ikan, telur, dan produk susu.
Karena itu, orang yang menjalani pola makan vegan memiliki risiko lebih tinggi mengalami kekurangan vitamin B12 apabila tidak mendapatkan asupan dari makanan yang telah difortifikasi atau suplemen.
Sementara itu, vegetarian juga perlu memperhatikan sumber vitamin B12, tergantung jenis pola makan yang dijalani.
5. Orang yang Mengonsumsi Obat Tertentu
Beberapa obat dapat memengaruhi penyerapan atau kadar vitamin B tertentu di dalam tubuh. Salah satu contohnya adalah obat penurun asam lambung yang dapat memengaruhi penyerapan vitamin B12 dalam penggunaan tertentu.
Metformin, yang banyak digunakan untuk menangani diabetes tipe 2, juga diketahui dapat berkaitan dengan rendahnya kadar vitamin B12 pada sebagian orang yang menggunakannya dalam jangka panjang.
Namun, seseorang tidak dianjurkan menghentikan obat hanya karena khawatir mengalami kekurangan vitamin. Jika memiliki faktor risiko, konsultasikan dengan dokter untuk menentukan apakah diperlukan pemantauan kadar vitamin atau suplementasi.
Apa Saja Jenis Vitamin B Kompleks?
Vitamin B kompleks mencakup delapan jenis vitamin yang memiliki fungsi berbeda tetapi saling berkaitan dalam berbagai proses tubuh.
Vitamin B1 (Tiamin)
Vitamin B1 membantu tubuh mengubah makanan menjadi energi sekaligus mendukung fungsi sistem saraf.
Kebutuhan hariannya dapat berbeda berdasarkan usia, jenis kelamin, dan kondisi seperti kehamilan. Kekurangan vitamin B1 yang berat dapat menyebabkan gangguan serius, termasuk beriberi.
Vitamin B2 (Riboflavin)
Riboflavin berperan dalam produksi energi serta membantu menjaga kesehatan kulit, mata, dan sistem saraf.
Kekurangan vitamin B2 dapat menyebabkan sejumlah gangguan, termasuk masalah pada kulit dan selaput lendir.
Vitamin B3 (Niasin)
Vitamin B3 membantu proses metabolisme energi serta mendukung fungsi sistem saraf dan kesehatan kulit.
Kekurangan niasin yang berat dapat menyebabkan pellagra, yang ditandai antara lain dengan gangguan kulit dan sistem pencernaan.
Vitamin B5 (Asam Pantotenat)
Vitamin B5 diperlukan tubuh untuk berbagai proses metabolisme, termasuk membantu mengolah makanan menjadi energi.
Kekurangan vitamin B5 tergolong jarang karena vitamin ini terdapat dalam berbagai jenis makanan.
Vitamin B6 (Piridoksin)
Vitamin B6 membantu tubuh memproses protein, karbohidrat, dan lemak. Vitamin ini juga berperan dalam pembentukan hemoglobin serta mendukung fungsi sistem saraf dan kekebalan tubuh.
Kekurangan vitamin B6 dapat menyebabkan anemia dan gangguan saraf pada kondisi tertentu.
Vitamin B7 (Biotin)
Biotin berperan dalam metabolisme lemak, karbohidrat, dan protein. Vitamin ini juga dibutuhkan dalam berbagai proses penting di dalam tubuh.
Kekurangan biotin tergolong jarang, tetapi dapat terjadi pada kondisi tertentu.
Vitamin B9 (Folat)
Folat sangat penting dalam pembentukan DNA dan sel darah merah. Nutrisi ini juga memiliki peran penting selama kehamilan karena mendukung pertumbuhan sel dan perkembangan janin.
Kebutuhan folat meningkat selama kehamilan sehingga pemenuhannya perlu mendapat perhatian khusus.
Vitamin B12 (Kobalamin)
Vitamin B12 berperan dalam pembentukan sel darah merah, menjaga fungsi sistem saraf, serta membantu proses metabolisme.
Kekurangan vitamin B12 dapat menyebabkan anemia dan gangguan neurologis. Risiko kekurangan lebih tinggi pada orang yang memiliki masalah penyerapan, lansia, serta mereka yang tidak mengonsumsi produk hewani tanpa mendapatkan sumber B12 alternatif.
Perlukah Semua Orang Minum Vitamin B Kompleks?
Tidak selalu. Jika kebutuhan vitamin B sudah tercukupi melalui makanan yang beragam dan seimbang, seseorang umumnya tidak perlu mengonsumsi suplemen vitamin B kompleks secara rutin tanpa alasan medis.
Suplemen dapat dipertimbangkan pada kondisi tertentu, terutama ketika seseorang memiliki faktor risiko kekurangan, gangguan penyerapan nutrisi, kebutuhan yang meningkat, atau pola makan yang membuat asupan vitamin tertentu sulit terpenuhi.
Yang perlu diingat, lebih banyak bukan berarti lebih baik. Beberapa vitamin B memiliki batas asupan tertentu dan konsumsi suplemen dalam dosis tinggi tanpa pengawasan dapat menimbulkan masalah.
Jika ingin mengonsumsi vitamin B kompleks karena merasa mudah lelah atau memiliki keluhan tertentu, sebaiknya cari tahu terlebih dahulu penyebabnya. Konsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan dapat membantu menentukan apakah memang terdapat kekurangan vitamin dan jenis suplemen yang sesuai.(Rhz2797)
