Notification

×

Iklan

Iklan

Makanan MBG Ditemukan Tak Layak? BGN Tegaskan Harus Dikembalikan ke SPPG

Agustus 13, 2026 Last Updated 2026-08-13T05:28:52Z

Jakarta — Badan Gizi Nasional (BGN) memperketat perhatian terhadap keamanan pangan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Makanan yang telah sampai di sekolah tetap perlu diperiksa sebelum dikonsumsi oleh peserta didik maupun guru.


Kepala BGN Sudaryono menegaskan bahwa makanan MBG yang ditemukan dalam kondisi tidak layak atau diragukan keamanannya tidak boleh dikonsumsi. Paket makanan tersebut harus segera dikembalikan kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk diperiksa lebih lanjut.


Satu Bagian Bermasalah, Seluruh Makanan Jangan Dikonsumsi


Sudaryono menjelaskan bahwa pemeriksaan kondisi makanan menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah risiko gangguan kesehatan. Guru di sekolah dapat memperhatikan kondisi makanan sebelum paket MBG dibagikan kepada siswa.


Menurut Sudaryono, apabila salah satu komponen makanan menunjukkan tanda-tanda tidak layak konsumsi, seluruh paket makanan harus dihentikan dari konsumsi. Artinya, makanan tidak boleh dipilih-pilih dengan hanya membuang bagian yang dianggap bermasalah.


"Kalau ditemukan tidak layak, misalnya ada lauk, ada sayur, ada buah, ada nasi, misalnya yang bau hanya sayurnya, harus tidak dikonsumsi semuanya," kata Sudaryono dalam Webinar Literasi Gizi dan Keamanan Pangan bagi Guru untuk mendukung Program MBG pada Rabu (12/8/2026).


Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan manfaat program MBG tidak hanya berkaitan dengan kandungan gizi makanan, tetapi juga keamanan pangan yang diterima oleh penerima manfaat.


Makanan Tak Layak Wajib Dikembalikan ke Dapur SPPG


Jika ditemukan makanan yang mencurigakan atau tidak layak, pihak sekolah tidak diperbolehkan tetap mengonsumsinya. Seluruh paket harus dikembalikan ke dapur SPPG untuk menjalani pemeriksaan dan investigasi.


Sudaryono menegaskan bahwa langkah tersebut diperlukan agar makanan yang berpotensi membahayakan kesehatan tidak sampai dikonsumsi oleh siswa maupun tenaga pendidik.


"Bagaimana kalau ditemukan tidak layak, wajib hukumnya tidak dikonsumsi dan dikembalikan kepada dapur SPPG. Kemudian nanti kami akan lakukan pemeriksaan," ujarnya.


Guru Diminta Perhatikan Kondisi Makanan


BGN juga mendorong peningkatan literasi gizi dan keamanan pangan di kalangan guru. Salah satu hal yang ditekankan adalah pemeriksaan secara organoleptik, yakni memperhatikan kondisi makanan melalui karakteristik yang dapat diamati, seperti aroma, warna, tampilan, dan kondisi fisiknya.


Pemeriksaan tersebut dilakukan sebelum makanan dibagikan dan dikonsumsi bersama peserta didik. BGN menilai keterlibatan guru penting untuk membantu mendeteksi kondisi makanan yang secara kasatmata menunjukkan adanya masalah.


Namun, pemeriksaan kondisi makanan tidak berarti bahwa guru menjadi pihak yang menentukan keamanan pangan secara laboratoris. Jika ditemukan indikasi makanan tidak layak, langkah yang harus dilakukan adalah menghentikan konsumsi dan mengembalikannya kepada SPPG untuk pemeriksaan lebih lanjut.


BGN Siapkan Tindakan Tegas untuk SPPG yang Lalai


Selain meminta makanan bermasalah dikembalikan, BGN menyatakan akan mengambil tindakan terhadap SPPG apabila terjadi kelalaian yang berdampak pada keamanan makanan.


Pengawasan ini menjadi bagian dari upaya BGN memperkuat pelaksanaan MBG agar standar keamanan pangan tetap terjaga dari proses penyediaan hingga makanan diterima dan akan dikonsumsi di sekolah.


Dengan demikian, keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya diukur dari tersalurnya makanan kepada peserta didik. Aspek keamanan, kualitas, dan kelayakan makanan juga menjadi bagian penting yang harus dipastikan sebelum makanan dikonsumsi.


BGN menegaskan bahwa prinsip utama dalam pelaksanaan MBG adalah makanan harus bergizi sekaligus aman. Jika terdapat keraguan terhadap kelayakan makanan, pilihan yang harus diambil adalah tidak mengonsumsinya dan segera mengembalikannya kepada SPPG untuk ditindaklanjuti.(Rhz2797)