Notification

×

Iklan

Iklan

Ramai Kasus Pasien BPJS dan Oknum Nakes, Psikiater Ungkap Cara Bijak Hadapi Konflik di Media Sosial

Agustus 05, 2026 Last Updated 2026-08-05T11:16:00Z


Perbincangan mengenai pelayanan kesehatan kembali menjadi sorotan setelah sebuah unggahan pasien BPJS Kesehatan viral di media sosial. Kasus tersebut memicu perdebatan luas karena pasien yang mengeluhkan sulitnya memperoleh ruang rawat inap justru mendapat komentar yang dinilai tidak berempati dari sejumlah akun yang diduga milik oknum dokter dan tenaga kesehatan (nakes).


Peristiwa itu semakin menyita perhatian publik setelah beredar kabar bahwa pasien tersebut telah meninggal dunia. Kondisi tersebut memicu gelombang reaksi dari warganet yang kemudian menelusuri identitas akun-akun yang dianggap memberikan komentar tidak pantas.


Di tengah memanasnya situasi, sejumlah pakar mengingatkan pentingnya menjaga etika dan empati dalam berkomunikasi di ruang digital, terutama ketika membahas persoalan yang menyangkut kesehatan dan keselamatan seseorang.


Psikiater Soroti Pentingnya Empati dalam Dunia Kesehatan


Dokter spesialis kedokteran jiwa, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menilai peristiwa tersebut menunjukkan betapa rentannya hubungan antara tenaga kesehatan, pasien, dan masyarakat ketika dihadapkan pada tekanan sistem pelayanan serta derasnya arus percakapan di media sosial.


Menurutnya, pelayanan kesehatan pada dasarnya merupakan interaksi antarmanusia yang sama-sama memiliki keterbatasan. Di satu sisi, tenaga kesehatan menghadapi tekanan pekerjaan yang tinggi, sementara di sisi lain pasien dan keluarganya berada dalam kondisi cemas serta membutuhkan pertolongan.


Karena itu, empati menjadi salah satu unsur penting yang harus tetap dijaga oleh semua pihak.


Terapkan Empati yang Tetap Memiliki Batas


Salah satu prinsip yang disarankan adalah compassion with boundaries, yakni menunjukkan kepedulian kepada orang lain tanpa mengabaikan etika maupun profesionalisme.


Empati tidak berarti membenarkan seluruh tindakan yang muncul akibat emosi. Sebaliknya, empati diwujudkan melalui kemampuan memahami perasaan orang lain sambil tetap menjaga sikap yang santun dan bertanggung jawab.


Pendekatan ini dinilai penting tidak hanya bagi tenaga kesehatan, tetapi juga bagi masyarakat saat memberikan tanggapan terhadap sebuah peristiwa.


Hindari Perundungan Massal di Media Sosial


Psikiater juga mengingatkan agar kemarahan publik tidak berubah menjadi aksi menghakimi atau perundungan digital (digital mob mentality).


Meski rasa kecewa maupun solidaritas terhadap korban merupakan hal yang wajar, menyerang individu secara beramai-ramai di media sosial justru dapat memperburuk keadaan dan menimbulkan dampak psikologis baru.


Penggunaan kata-kata yang merendahkan dinilai tidak akan menyelesaikan persoalan, melainkan berpotensi memperpanjang konflik yang sudah terjadi.


Gunakan Prinsip THINK Sebelum Berkomentar


Untuk menjaga ruang digital tetap sehat, masyarakat disarankan menerapkan prinsip THINK sebelum mengunggah komentar atau membagikan informasi.


Prinsip tersebut meliputi:


  • True, memastikan informasi yang disampaikan benar dan sesuai fakta.
  • Helpful, mempertimbangkan apakah komentar dapat membantu menyelesaikan masalah.
  • Inspiring, menggunakan kalimat yang memberi semangat atau harapan.
  • Necessary, menilai apakah komentar memang perlu disampaikan.
  • Kind, menyampaikan pendapat dengan bahasa yang sopan dan penuh penghormatan.


Dengan menerapkan lima prinsip tersebut, percakapan di media sosial diharapkan menjadi lebih konstruktif dan tidak memicu konflik baru.


Empati Perlu Dilatih Setiap Hari


Menurut dr. Lahargo, empati bukanlah kemampuan yang dimiliki secara otomatis, melainkan keterampilan yang dapat diasah melalui kebiasaan sehari-hari.


Membiasakan diri mendengarkan tanpa terburu-buru menghakimi, memahami sudut pandang orang lain, serta memilih kata-kata yang membangun merupakan langkah sederhana untuk memperkuat empati, baik dalam kehidupan nyata mau(Rhz2797)