Metode dakwah yang tidak biasa dilakukan seorang pendakwah bernama Gus Faruq menjadi perhatian publik. Ia menyampaikan ceramah selama sekitar 1,5 jam dari dalam liang lahat dalam kegiatan Pengajian Rutin Ahad Pahing PCNU Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra).
Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (1/11/2026) tersebut digelar di Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum, Desa Cialam Jaya, Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan. Dalam prosesi itu, Gus Faruq terlebih dahulu mengenakan kain kafan sebelum dimasukkan ke liang lahat layaknya seseorang yang hendak dimakamkan.
Informasi tersebut dibenarkan oleh Yazidurrozaq, salah satu pengurus Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Konawe Selatan yang turut menyaksikan langsung kegiatan tersebut.
"Iya benar beliau melakukan ceramah di dalam kubur selama 1,5 jam," kata Yazidurrozaq sebagaimana dikutip dari detikSulsel, Selasa (3/11/2026).
Gus Faruq Dikafani Sebelum Masuk Liang Lahat
Prosesi dakwah yang dilakukan Gus Faruq dimulai dengan mengenakan kain kafan. Setelah seluruh tubuhnya dibungkus kain putih, ia kemudian dibaringkan dan dimasukkan ke dalam liang lahat yang telah disiapkan sebelumnya.
Tidak berhenti sampai di situ, liang lahat tersebut kemudian ditutup menggunakan papan dan ditimbun dengan tanah. Bagian atasnya bahkan dibuat menyerupai makam pada umumnya, lengkap dengan gundukan tanah dan sebuah nisan.
Menurut Yazidurrozaq, tidak terlihat adanya lubang udara pada bagian liang lahat tersebut. Hanya kabel mikrofon yang dibiarkan menjulur keluar untuk mendukung penyampaian ceramah dari dalam tanah.
"Bahkan ada gundukan tanahnya dan ada nisannya juga. Bisa dipastikan tidak ada lubang udara, hanya kabel mikrofon saja yang keluar," tuturnya.
Ceramah Berlangsung Sejak Prosesi Pengafanan hingga Digali Kembali
Yazidurrozaq menjelaskan, Gus Faruq tidak hanya menyampaikan ceramah setelah berada di dalam liang lahat. Rangkaian dakwah tersebut sudah dimulai sejak prosesi mengenakan kain kafan hingga akhirnya dimasukkan ke dalam tanah.
Selama berada di dalam liang lahat, Gus Faruq tetap menyampaikan materi keagamaan melalui perangkat mikrofon yang telah disiapkan panitia.
Seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari proses pengafanan, penguburan, penyampaian ceramah, hingga penggalian kembali liang lahat, berlangsung sekitar satu setengah jam.
Setelah ceramah selesai, liang lahat kemudian dibuka kembali sehingga Gus Faruq dapat keluar dari tempat tersebut.
PCNU Konawe Selatan Jelaskan Tujuan Ceramah dari Dalam Kubur
Ketua PCNU Konawe Selatan, Mohamad Anwar, menjelaskan bahwa metode ceramah dari dalam kubur tersebut merupakan pendekatan dakwah yang digunakan Gus Faruq untuk mengingatkan masyarakat tentang kematian.
Menurutnya, kegiatan tersebut bukan bentuk pemujaan terhadap kuburan, melainkan sarana menyampaikan pesan keagamaan agar jamaah lebih banyak melakukan introspeksi diri dan mengingat kehidupan setelah kematian.
"Ini adalah metode ceramah, bukan menyembah kubur. Beliau ceramah tentang kematian dari dalam liang lahat sebagai media untuk mengingatkan jamaah agar mengingat kematian dan segera bertaubat," jelas Mohamad Anwar.
Ia juga meminta masyarakat tidak terburu-buru memberikan penilaian negatif tanpa memahami tujuan dari kegiatan tersebut.
Meski demikian, PCNU Konawe Selatan mengingatkan bahwa metode dakwah semacam ini tidak boleh ditiru sembarangan karena memiliki risiko keselamatan serta perlu memperhatikan adab.
Bukan Pertama Kali, Gus Faruq Pernah Berdakwah dengan Metode Serupa
Metode dakwah melalui simulasi penguburan ternyata bukan pertama kali dilakukan Gus Faruq. Pendakwah asal Lampung tersebut sebelumnya juga pernah menyampaikan ceramah dari dalam liang lahat di wilayah Lampung Selatan pada 2019.
Dalam pemberitaan NU Online pada 28 Maret 2019, Gus Faruq yang dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ikhlas, Tulang Bawang, Lampung, menggunakan metode tersebut untuk menyampaikan pesan tentang kefanaan kehidupan dunia dan pentingnya mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Melalui pendekatan tersebut, jamaah diajak merenungkan bahwa kehidupan manusia di dunia hanya sementara dan setiap orang pada akhirnya akan menghadapi kematian.
Aksi ceramah dari dalam kubur di Konawe Selatan ini pun kembali menarik perhatian masyarakat. Selain menjadi metode dakwah yang tidak lazim, kegiatan tersebut mengingatkan pentingnya memahami pesan keagamaan tentang kematian, memperbaiki diri, serta mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.(Rhz2797)

