Di tengah tren kenaikan harga emas global, ekonom Amerika Serikat Peter Schiff kembali melontarkan peringatan serius. Menurutnya, lonjakan harga emas bukan sekadar fenomena lindung nilai (safe haven), melainkan sinyal kuat memburuknya kondisi ekonomi global, khususnya di Amerika Serikat.
Schiff, yang dikenal luas karena prediksinya yang tepat soal krisis keuangan global 2008, menilai kenaikan harga emas mencerminkan melemahnya kepercayaan dunia terhadap dolar AS. Kondisi tersebut, kata dia, bisa memicu krisis ekonomi besar dalam waktu dekat.
π Emas Jadi Sinyal Awal Krisis Besar
Saat berbicara di program The Claman Countdown yang disiarkan Fox Business, Selasa (27/1/2026), Schiff menegaskan bahwa emas dan perak kini menjadi indikator awal krisis yang lebih luas.
“Emas dan perak memberikan peringatan akan krisis yang lebih besar, yang bisa terjadi akhir tahun ini atau tahun depan. Kita sedang menuju krisis dolar AS dan krisis utang negara,” ujar Schiff.
Ia bahkan menyebut krisis yang akan datang berpotensi lebih parah dibandingkan krisis finansial 2008.
π Bank Sentral Dunia Tinggalkan Dolar AS
Menurut Schiff, salah satu tanda paling mengkhawatirkan adalah pergeseran strategi bank sentral global. Banyak negara mulai mengurangi kepemilikan:
Dolar AS
Surat utang pemerintah Amerika Serikat
Sebaliknya, mereka justru meningkatkan cadangan emas.
“Bank-bank sentral membeli emas untuk mendukung mata uang mereka. Mereka melepas dolar dan obligasi AS,” tegas Schiff.
Ia menilai langkah ini sebagai sinyal bahwa dunia mulai bersiap menghadapi ketidakstabilan dolar AS.
π Data Global Perkuat Kekhawatiran
Laporan yang dikutip dari Yahoo News menunjukkan sejumlah data yang mendukung pandangan Schiff, antara lain:
Indeks Dolar AS turun ke level terendah dalam empat tahun terakhir
Pembelian emas oleh bank sentral global melonjak drastis
Sejak 2022, pembelian emas dilaporkan melampaui 1.000 ton per tahun, lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode sebelumnya.
π§ Pandangan Berbeda dari Analis Lain
Meski demikian, tidak semua pihak sepakat dengan prediksi Schiff. Carrie Sheffield, analis kebijakan senior Independent Women’s Forum, menilai sejumlah prediksi krisis cenderung terlalu ekstrem.
Ia mengutip data Biro Statistik Tenaga Kerja AS yang menunjukkan inflasi relatif lebih terkendali pada masa pemerintahan Presiden Donald Trump dibandingkan era Presiden Joe Biden.
“Inflasi rata-rata pada masa jabatan kedua Presiden Trump tercatat 2,7 persen, sementara pada era Biden mencapai sekitar 5 persen,” ujar Sheffield.
Sheffield juga menyoroti pertumbuhan PDB AS pada 2025 yang dinilai masih solid.
⚠️ Schiff: Data Ekonomi Bisa Menyesatkan
Menanggapi pandangan tersebut, Schiff menegaskan bahwa data ekonomi saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riil. Menurutnya, angka-angka tersebut telah terdistorsi oleh inflasi dan berpotensi direvisi di kemudian hari.
“Inflasi akan jauh lebih merusak dalam beberapa tahun ke depan. Itulah pesan yang disampaikan oleh emas dan perak. Ini adalah peringatan,” kata Schiff.
Ia juga menyoroti struktur ekonomi AS yang terlalu bergantung pada:
Konsumsi
Utang
Status dolar sebagai mata uang cadangan dunia
“Kita bergantung pada dunia untuk barang-barang yang tidak kita produksi dan dana yang tidak kita tabung. Dunia mulai menarik dukungan itu. Dolar akan runtuh dan digantikan oleh emas,” tegasnya.
π Krisis Berpusat di Amerika Serikat?
Schiff menambahkan, krisis mendatang akan berbeda dari krisis global sebelumnya. Jika dulu krisis menyebar ke seluruh dunia, kali ini justru Amerika Serikat akan menjadi pusat krisis, sementara negara lain berpotensi diuntungkan.
“Ini adalah krisis keuangan Amerika. Dunia justru akan diuntungkan,” ujar Schiff.
π Kesimpulan
Lonjakan harga emas global kini menjadi sorotan serius. Bagi Peter Schiff, emas bukan sekadar aset aman, melainkan alarm dini krisis ekonomi, krisis utang, dan melemahnya dolar AS. Meski pandangannya menuai pro dan kontra, tren global menunjukkan semakin banyak negara memilih emas sebagai tameng menghadapi ketidakpastian ekonomi.

