Notification

×

Iklan

Iklan

Viral Jual Lukisan Rp 5 Ribu, Agista Anak Pemulung Kini Punya Harapan Besar untuk Sekolah

Februari 27, 2026 Last Updated 2026-02-27T00:53:27Z

 

Kisah haru datang dari Ciledug, Kota Tangerang. Agista Saputri (10), putri pasangan pemulung, mendadak viral di media sosial karena bakat menggambarnya. Di balik lukisan sederhana bergambar gunung dan rumah yang ia jual seharga Rp 5.000 hingga Rp 10.000, tersimpan perjuangan hidup dan mimpi besar untuk bisa bersekolah.


Selama ini, Agista belum pernah mengenyam pendidikan formal. Keterbatasan ekonomi serta ketiadaan dokumen kependudukan membuatnya belum bisa mendaftar ke sekolah seperti anak-anak seusianya.


Jual Gambar demi Bantu Orang Tua


Sejak dua tahun terakhir, Agista rutin menjual hasil gambarnya di kawasan Puri Kartika, Ciledug. Dengan kertas HVS ukuran A4 seharga Rp 5.000 dan ukuran A3 Rp 10.000, ia mampu menjual tiga hingga empat gambar per hari.


Uang yang diperolehnya sebagian besar diserahkan kepada sang ibu untuk membantu kebutuhan sehari-hari. Bahkan, uang pertama sebesar Rp 20.000 langsung diberikan untuk membeli beras.


Bagi Agista, menggambar bukan sekadar hobi, melainkan cara membantu orang tua sekaligus menyalurkan bakat yang ia miliki sejak kecil.


Terkendala Dokumen Identitas


Ayah Agista, Roni Hidayatna, mengungkapkan bahwa keluarganya belum memiliki dokumen kependudukan seperti KTP, Kartu Keluarga, dan akta kelahiran. Hal inilah yang menjadi hambatan utama Agista untuk masuk sekolah.


Pengurusan dokumen harus dilakukan di kampung halaman mereka di Lampung, namun keterbatasan biaya membuat proses tersebut tertunda cukup lama. Akibatnya, Agista lebih sering ikut orang tuanya memulung dibanding belajar di bangku sekolah.


Kini, setelah kisahnya viral, proses administrasi mulai diurus agar ia dapat segera mengenyam pendidikan formal.


Perhatian Pemerintah Provinsi Banten


Kisah Agista turut menarik perhatian Pemerintah Provinsi Banten. Gubernur Andra Soni disebut mengingatkan agar Agista tidak lagi diajak bekerja dan bisa fokus pada pendidikan.


Ia juga diarahkan untuk mengikuti program Sekolah Rakyat yang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Proses pengurusan pendaftaran disebut sudah berjalan dalam sepekan terakhir.


Langkah ini menjadi harapan baru bagi Agista dan keluarganya agar ia dapat belajar dengan layak serta mengembangkan bakat seninya.


Mimpi Jadi Pelukis Profesional


Di tengah keterbatasan, Agista menyimpan cita-cita besar: menjadi pelukis profesional. Ia ingin suatu hari nanti melukis di atas kanvas dan menghasilkan karya yang lebih besar.


Gambar rumah yang sering ia buat ternyata memiliki makna mendalam. Itu adalah simbol harapannya untuk membelikan rumah bagi orang tuanya ketika sudah dewasa nanti.


Bagi kedua orang tuanya, kesempatan sekolah adalah pintu menuju masa depan yang lebih baik bagi sang anak. Mereka berharap Agista dapat tumbuh menjadi pribadi yang sukses dan tidak mengalami kesulitan seperti yang mereka rasakan saat ini.


Kisah Agista menjadi pengingat bahwa bakat bisa tumbuh di mana saja, bahkan di tengah keterbatasan. Dengan dukungan pendidikan dan perhatian bersama, mimpi kecil bisa berubah menjadi harapan besar.