Notification

×

Iklan

Iklan

Tragis! Gara-Gara Baju Lebaran, Seorang Suami di Batavia Tega Habisi Nyawa Istrinya

Maret 13, 2026 Last Updated 2026-03-13T00:51:21Z

 

Tradisi membeli pakaian baru menjelang Lebaran telah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia. Namun pada masa kolonial, kebiasaan ini pernah memicu peristiwa tragis yang menghebohkan warga Batavia—kini dikenal sebagai Jakarta.


Peristiwa tersebut terjadi menjelang perayaan Idul Fitri 1350 Hijriah atau sekitar Januari 1932. Saat itu, seorang suami dilaporkan tega membunuh istrinya sendiri setelah terjadi pertengkaran terkait permintaan membeli baju baru untuk Lebaran.


Cekcok Rumah Tangga Berujung Pembunuhan


Kasus ini terjadi di kawasan Tanjung Priok. Menurut laporan surat kabar kolonial De Indische Courant edisi 9 Mei 1932, pelaku bernama Telo bin Saleh.


Beberapa hari sebelum Lebaran, sang istri meminta uang kepada suaminya untuk membeli satu set pakaian baru agar dapat merayakan hari raya dengan lebih meriah.


Namun permintaan tersebut ditolak. Telo mengaku tidak memiliki cukup uang karena kondisi ekonomi sedang sulit. Saat itu, Hindia Belanda memang tengah menghadapi krisis ekonomi yang berdampak pada kehidupan masyarakat.


Ia kemudian menyarankan agar mereka merayakan Lebaran secara sederhana dengan mengenakan pakaian lama yang masih layak digunakan.


Tradisi Lebaran Jadi Pemicu Konflik


Sang istri tidak menerima penolakan tersebut dan terus mendesak agar suaminya memberikan uang. Bagi dirinya, mengenakan pakaian baru saat Lebaran merupakan tradisi penting yang sudah lama dilakukan masyarakat.


Surat kabar De Indische Courant mencatat bahwa masyarakat pribumi saat itu memiliki kebiasaan mengenakan pakaian baru saat hari raya, bahkan ketika kondisi ekonomi sedang sulit.


Perdebatan antara keduanya pun semakin memanas hingga akhirnya berubah menjadi pertengkaran besar di dalam rumah.


Emosi Memuncak, Nyawa Melayang


Dalam kondisi emosi yang memuncak, pertengkaran semakin tidak terkendali. Laporan menyebutkan sang istri sempat melontarkan kata-kata yang menyinggung perasaan suaminya.


Hal itu membuat Telo kehilangan kendali. Ia kemudian mengambil pisau dan menyerang istrinya. Tusukan tersebut menyebabkan korban meninggal dunia di tempat.


Akibat perbuatannya, Telo bin Saleh harus menjalani proses hukum dan menghabiskan waktu Lebaran di balik jeruji penjara.


Tradisi Baju Lebaran Sudah Ada Sejak Lama


Terlepas dari tragedi tersebut, kisah ini juga menunjukkan bahwa tradisi membeli pakaian baru menjelang Lebaran telah lama mengakar di masyarakat Indonesia.


Catatan mengenai kebiasaan tersebut bahkan sudah muncul jauh sebelum peristiwa tahun 1932. Salah satunya ditulis oleh orientalis Belanda, Christiaan Snouck Hurgronje dalam bukunya tentang masyarakat Nusantara.


Ia mencatat bahwa di berbagai daerah, masyarakat lebih memprioritaskan membeli pakaian baru untuk Lebaran dibandingkan kebutuhan lain.


Perayaan Lebaran Jadi Sorotan Pemerintah Kolonial


Dalam catatan Snouck Hurgronje, pasar pakaian menjelang Lebaran selalu dipadati pembeli. Fenomena ini terlihat di banyak daerah, termasuk Aceh dan Batavia.


Sebagian pejabat kolonial bahkan menganggap tradisi tersebut sebagai bentuk pemborosan. Mereka menilai banyak pegawai pribumi rela meminjam uang demi merayakan Lebaran secara meriah.


Meski demikian, Snouck Hurgronje tidak setuju jika tradisi tersebut dilarang. Menurutnya, melarang masyarakat merayakan Lebaran tidak serta-merta membuat mereka menjadi lebih hemat.


Kisah tragis dari Batavia tahun 1932 ini pun menjadi pengingat bahwa tekanan ekonomi dan konflik rumah tangga bisa memicu tragedi besar jika tidak diselesaikan dengan kepala dingin.