Gelombang panic buying bahan bakar minyak (BBM) terjadi di Seoul, Korea Selatan, pada Rabu (4/3/2026). Antrean kendaraan tampak mengular di berbagai stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), dipicu kekhawatiran warga atas kenaikan harga minyak dunia akibat konflik di Iran.
Lonjakan harga energi global dalam beberapa hari terakhir membuat para pengemudi berbondong-bondong memenuhi tangki kendaraan mereka. Kekhawatiran utama adalah potensi kenaikan harga yang lebih tajam dalam waktu dekat.
Antrean Panjang di Sejumlah SPBU Seoul
Pantauan di sejumlah titik di Seoul menunjukkan antrean kendaraan memanjang hingga ke luar area SPBU. Beberapa pengemudi bahkan rela menunggu berjam-jam demi mendapatkan harga yang masih berlaku hari itu.
Seorang warga setempat mengaku memilih mengisi penuh tangki sebagai langkah antisipasi. “Kami tidak tahu harga besok akan seperti apa. Lebih baik isi sekarang,” ujarnya.
Dampak Konflik Iran ke Pasar Energi Global
Kenaikan harga BBM di Korea Selatan tak lepas dari gejolak pasar energi global. Ketegangan yang melibatkan Iran membuat harga minyak mentah dunia terdongkrak, memicu kekhawatiran gangguan pasokan di kawasan Timur Tengah.
Sebagai negara yang sangat bergantung pada impor energi, Korea Selatan sangat sensitif terhadap fluktuasi harga minyak internasional. Setiap kenaikan harga minyak mentah biasanya langsung berdampak pada harga jual BBM domestik.
Pemerintah Diminta Jaga Stabilitas Pasokan
Lonjakan pembelian ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi kelangkaan sementara jika tren panic buying terus berlanjut. Pengamat energi menilai pemerintah perlu memastikan pasokan tetap stabil serta memberikan kepastian informasi agar kepanikan tidak meluas.
Hingga saat ini, otoritas setempat belum mengumumkan pembatasan pembelian BBM. Namun situasi masih dipantau ketat mengingat volatilitas pasar minyak global yang belum mereda.
Jika konflik terus bereskalasi, tekanan terhadap harga energi diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan. (RHZ27)
