Notification

×

Iklan

Iklan

Mengharukan! Mbah Kibar Pilih Jual Lukisan Demi Lunasi Utang Rp500 Juta, Tolak Minta-minta

April 19, 2026 Last Updated 2026-04-19T04:35:17Z


Di usia 76 tahun, Suhardiyono Kibar atau yang akrab disapa Mbah Kibar masih terus berjuang menghadapi kerasnya hidup. Seniman asal Sleman ini memilih tetap melukis demi melunasi utang sebesar Rp500 juta yang kini membebaninya, daripada meminta-minta atau bergantung pada belas kasihan orang lain.


Mbah Kibar diketahui terjerat utang atas namanya sendiri hingga membuat tanah warisan keluarganya terancam disita oleh pihak bank. Meski menghadapi tekanan besar, ia tetap teguh mempertahankan harga dirinya sebagai seorang seniman.


Dilansir dari detikJogja, Minggu (19/4/2026), selama puluhan tahun Mbah Kibar menghidupi keluarganya dari hasil penjualan karya seni lukis. Bahkan, sejumlah lukisannya pernah dipamerkan dalam berbagai ajang seni, termasuk pameran tunggal dalam beberapa tahun terakhir.


Baginya, melukis bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga bentuk perjuangan hidup yang terus ia pegang hingga sekarang. Ia menegaskan tidak ingin menerima donasi karena masih merasa mampu berkarya dan menghasilkan uang dari tangannya sendiri.


“Saya profesional saja. Saya nggak perlu didonasi. Saya masih mampu untuk melukis,” ujar Mbah Kibar saat ditemui di rumah joglonya di kawasan Ngemplak.


Selain masalah utang, cobaan lain juga datang dari kondisi rumah lamanya di wilayah Banguntapan yang mengalami kerusakan parah hingga akhirnya ambruk. Saat musim hujan tiba, rasa khawatir selalu menghantui karena kondisi bangunan yang tidak lagi aman untuk ditempati.


“Rumah saya ambruk, rusak berat. Kalau hujan itu ngeri,” ungkapnya.


Kini, Mbah Kibar merasa lebih tenang karena telah memiliki tempat tinggal yang lebih layak sekaligus ruang untuk terus berkarya. Di rumah barunya, ia juga mendapatkan fasilitas untuk melukis, sehingga semangatnya untuk bangkit kembali semakin besar.


Perjuangan Mbah Kibar menjadi potret keteguhan seorang seniman yang memilih bertahan dengan karya, bukan mengandalkan belas kasihan. Di tengah beban utang yang besar, ia tetap percaya bahwa kuas dan kanvas bisa menjadi jalan untuk menyelamatkan masa depannya. (Rhz2797)