Notification

×

Iklan

Iklan

Terkuak! Jejak Blok M dan ‘Saudara-saudaranya’ yang Hilang dari Peta Jakarta

April 17, 2026 Last Updated 2026-04-17T12:43:02Z

Blok M kini dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas paling sibuk di Jakarta Selatan. Namun di balik hiruk-pikuknya, kawasan ini menyimpan sejarah panjang yang berawal dari ambisi besar membangun kota satelit modern di masa lalu.


Dahulu, Blok M bukanlah satu-satunya kawasan di wilayah Kebayoran Baru. Area ini merupakan bagian dari sistem pembagian wilayah yang terdiri dari banyak “blok”, mulai dari Blok A hingga Blok S. Konsep ini menjadi fondasi awal pembangunan Kebayoran sebagai kota mandiri di pinggiran Jakarta.


Sejarahnya bermula pada era Batavia sekitar tahun 1938, ketika pemerintah kolonial Hindia Belanda merancang kota satelit untuk mengatasi kepadatan penduduk. Namun, rencana tersebut baru benar-benar dijalankan setelah Indonesia merdeka, tepatnya sekitar tahun 1948.


Perancangan kota satelit Kebayoran mengusung konsep “Garden City” yang mengintegrasikan kawasan hunian, transportasi, dan pusat pemerintahan dalam satu wilayah terpadu. Arsitek Moh Soesilo membagi kawasan ini menjadi 19 blok, dari Blok A hingga Blok S.


Setiap blok dirancang sebagai unit hunian yang terstruktur rapi, mencerminkan visi kota modern yang tertata. Namun seiring perkembangan pesat Jakarta, konsep kota satelit ini perlahan memudar. Banyak kawasan hunian berubah fungsi menjadi area komersial, sehingga struktur awal tidak lagi terjaga.


Memasuki era Orde Baru, perubahan semakin masif. Penamaan wilayah berbasis blok mulai ditinggalkan dan digantikan dengan nama jalan atau kawasan yang lebih relevan secara administratif dan politis. Banyak blok lama akhirnya “hilang” dari peta dan berganti identitas.


Kini, nama-nama seperti Melawai, Barito, Senopati, Dharmawangsa, hingga Gandaria menggantikan sebagian besar blok lama tersebut. Perubahan ini mencerminkan dinamika sosial dan kebijakan penataan kota yang terus berkembang.


Meski begitu, tidak semua nama blok menghilang. Hanya beberapa yang masih bertahan hingga sekarang, seperti Blok A, Blok M, dan Blok S. Ketiganya tetap digunakan karena fungsinya relatif tidak berubah dan sudah melekat kuat di masyarakat.


Blok M sendiri memiliki posisi yang sangat strategis sejak awal perancangannya. Terletak di tengah kawasan, wilayah ini dirancang sebagai pusat aktivitas atau hub, mencakup area niaga, transportasi, dan pemukiman. Fungsi inilah yang membuat Blok M tetap relevan hingga kini.


Jika ditarik ke kondisi saat ini, sebagian besar blok lama sebenarnya masih ada secara geografis, meski telah berganti nama. Misalnya, Blok B kini dikenal sebagai kawasan Barito, Blok I menjadi Senopati, hingga Blok P yang berubah menjadi Dharmawangsa.


Dengan kata lain, jejak sejarah kota satelit Kebayoran Baru masih bisa ditelusuri melalui peta modern Jakarta. Hanya saja, nama “blok” yang dulu menjadi identitas utama kini perlahan tergantikan oleh dinamika zaman.


Kisah Blok M dan blok-blok lain ini menjadi bukti bahwa perkembangan kota tidak hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga perubahan identitas yang mengikuti perjalanan sejarah dan kebutuhan masyarakat. (Rhz2797)