Notification

×

Iklan

Iklan

Ilmuwan RI Temukan Bakteri “Super Panas” dari Sukabumi, Potensinya Bikin Dunia Kesehatan dan Kosmetik Melirik

Mei 28, 2026 Last Updated 2026-05-28T10:41:40Z

Tim peneliti Indonesia berhasil menemukan spesies bakteri baru bernama Thermus javaensis, mikroorganisme unik yang mampu hidup di suhu ekstrem hingga mendekati air mendidih. Bakteri ini ditemukan di kawasan geiser Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat, dan kini menarik perhatian dunia ilmiah karena potensinya yang besar di berbagai sektor industri.


Penelitian mengenai bakteri tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Journal of Systematic and Evolutionary Microbiology pada tahun 2026. Penemuan ini menjadi salah satu pencapaian penting dalam dunia mikrobiologi Indonesia.


Ilmuwan mikrobiologi dari Universitas Indonesia, Prof Dra Wellyzar Sjamsuridzal, M.Sc, PhD, menjelaskan bahwa Thermus javaensis termasuk bakteri termofilik, yaitu bakteri yang dapat bertahan hidup pada suhu sangat tinggi.


Menurutnya, bakteri tersebut ditemukan di geiser Cisolok yang memiliki suhu mencapai sekitar 100 derajat Celsius. Lokasi itu disebut sebagai salah satu sumber panas bumi unik di Indonesia yang memungkinkan mikroorganisme ekstrem berkembang.


Penelitian Dilakukan Bertahun-tahun


Proses penelitian bakteri ini ternyata tidak berlangsung singkat. Tim peneliti mulai melakukan kajian di kawasan geiser Cisolok sejak lebih dari satu dekade lalu, sementara proses isolasi bakteri dilakukan pada 2015.


Namun, mengembangbiakkan bakteri di laboratorium menjadi tantangan besar. Thermus javaensis memiliki suhu optimal hidup di sekitar 65 derajat Celsius, sehingga membutuhkan inkubator khusus dengan temperatur tinggi.


Tak hanya itu, media agar biasa yang digunakan dalam penelitian mikrobiologi dapat meleleh pada suhu tersebut. Karena itu, para peneliti harus menggunakan medium khusus agar bakteri bisa tetap hidup dan berkembang di laboratorium.


Punya Potensi Besar untuk Industri


Salah satu alasan bakteri ini dianggap sangat berharga adalah kemampuannya menghasilkan enzim yang stabil pada suhu tinggi. Enzim tersebut berpotensi dimanfaatkan dalam berbagai industri, mulai dari pangan hingga kesehatan.


Prof Wellyzar menjelaskan bahwa Thermus javaensis mampu menghasilkan enzim karbohidrase, yaitu enzim yang dapat memecah karbohidrat kompleks menjadi senyawa lebih sederhana. Enzim seperti ini sangat dibutuhkan dalam industri fermentasi dan pengolahan makanan.


Selain karbohidrase, bakteri ini juga menghasilkan berbagai enzim lain seperti amilase, kitinase, dan silanase yang berguna untuk membantu proses degradasi polimer yang sulit diurai.


Kemampuan bertahan di lingkungan panas membuat enzim dari bakteri ini tetap stabil meski digunakan dalam kondisi ekstrem. Hal ini menjadi nilai tambah besar dalam pengembangan teknologi industri modern.


Berpeluang Digunakan untuk Kosmetik Anti-Aging


Menariknya, kelompok bakteri Thermus di luar negeri sudah lebih dulu dimanfaatkan dalam industri kosmetik, termasuk produk anti-aging. Menurut Prof Wellyzar, bakteri jenis ini diketahui mampu membantu meningkatkan produksi kolagen pada kulit.


Karena itu, Thermus javaensis juga dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan di sektor kecantikan dan perawatan kulit pada masa depan.


Selain industri kosmetik, pemanfaatannya juga berpotensi meluas ke bidang lingkungan, kesehatan, hingga bioteknologi modern.


Mirip Teknologi yang Dipakai PCR


Prof Wellyzar turut mencontohkan bahwa teknologi PCR yang umum digunakan dalam dunia sains dan medis saat ini juga memanfaatkan enzim dari kelompok bakteri Thermus.


Enzim Taq DNA polymerase yang dipakai dalam proses PCR berasal dari Thermus aquaticus, bakteri yang ditemukan di Yellowstone Hot Springs, Amerika Serikat. Teknologi tersebut sangat penting dalam pemeriksaan laboratorium modern, termasuk tes genetika dan deteksi penyakit.


Membuktikan Spesies Baru Butuh Waktu Panjang


Meski Indonesia memiliki banyak sumber panas bumi yang berpotensi menyimpan mikroorganisme unik, proses membuktikan sebuah bakteri sebagai spesies baru bukanlah hal mudah.


Peneliti harus melakukan berbagai tahap karakterisasi, mulai dari analisis biologis, fisiologis, biokimia, hingga pengungkapan genom dan karakter genetiknya. Seluruh proses itu membutuhkan waktu panjang dan penelitian mendalam.


Tim peneliti bahkan menghabiskan sekitar dua tahun hanya untuk mengumpulkan data dan memastikan bahwa Thermus javaensis benar-benar merupakan spesies baru.


Penemuan ini dinilai membuka peluang besar bagi pengembangan riset mikroorganisme ekstrem di Indonesia sekaligus mendorong lahirnya inovasi baru di bidang industri, kesehatan, dan teknologi berbasis biologi.(Rhz2797)