Notification

×

Iklan

Iklan

Sudah Diet Ketat Tapi Berat Badan Tak Turun? Ternyata DNA Bisa Jadi Penyebabnya

Juni 07, 2026 Last Updated 2026-06-07T03:59:01Z


Banyak orang merasa bingung ketika menjalani pola diet yang sama dengan teman atau anggota keluarga, tetapi hasil yang didapat justru berbeda. Ada yang berhasil menurunkan berat badan dalam waktu relatif singkat, sementara yang lain tidak melihat perubahan signifikan meski sudah disiplin menjalankan pola makan yang sama.


Fenomena tersebut ternyata bukan hal yang aneh. Para ahli gizi menyebut bahwa setiap tubuh memiliki karakteristik biologis yang berbeda, termasuk dalam cara mengolah dan memanfaatkan zat gizi dari makanan. Faktor genetik menjadi salah satu alasan mengapa respons terhadap diet tidak selalu sama pada setiap individu.


Mengapa Hasil Diet Bisa Berbeda?


Menurut dokter spesialis gizi klinik, dr. Yaze, SpGK, pertanyaan mengenai perbedaan hasil diet merupakan salah satu hal yang sering disampaikan pasien saat berkonsultasi. Banyak orang menganggap bahwa metode diet yang berhasil pada orang lain pasti akan memberikan hasil serupa jika diterapkan dengan cara yang sama.


Padahal, tubuh manusia memiliki sistem metabolisme yang unik. Meskipun dua orang mengonsumsi makanan yang sama dan menjalani aktivitas yang mirip, tubuh mereka dapat memberikan respons yang berbeda terhadap asupan tersebut.


Perbedaan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah susunan genetik atau DNA yang dimiliki masing-masing individu.


Peran DNA dalam Proses Metabolisme


DNA menyimpan berbagai informasi yang mengatur fungsi tubuh, termasuk bagaimana tubuh memproses karbohidrat, lemak, protein, hingga kafein. Variasi genetik tertentu dapat membuat seseorang lebih mudah membakar lemak, sementara orang lain mungkin lebih sensitif terhadap konsumsi karbohidrat atau memiliki respons berbeda terhadap olahraga.


Inilah alasan mengapa pola makan yang efektif bagi seseorang belum tentu memberikan hasil optimal bagi orang lain. Faktor genetik turut menentukan bagaimana tubuh menyerap, menyimpan, dan menggunakan energi dari makanan yang dikonsumsi setiap hari.


Semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan nutrisi tidak dapat disamaratakan karena setiap individu memiliki karakteristik biologis yang berbeda.


Mengenal Nutrigenomik, Ilmu yang Menghubungkan Gen dan Nutrisi


Peran genetik dalam pola makan dipelajari melalui cabang ilmu yang dikenal sebagai nutrigenomik. Bidang ini meneliti hubungan antara gen dan nutrisi untuk memahami bagaimana tubuh merespons berbagai jenis makanan.


Melalui pendekatan nutrigenomik, para peneliti berusaha menjelaskan mengapa seseorang dapat memperoleh manfaat besar dari pola makan tertentu, sementara orang lain tidak mengalami efek yang sama.


Perkembangan ilmu ini kemudian melahirkan konsep personalized nutrition atau nutrisi yang dipersonalisasi. Konsep tersebut berfokus pada penyusunan pola makan berdasarkan kebutuhan dan karakteristik masing-masing individu, bukan hanya mengikuti rekomendasi umum.


Gaya Hidup Tetap Menjadi Kunci


Meski faktor genetik memiliki pengaruh penting, para ahli menegaskan bahwa DNA bukan satu-satunya penentu keberhasilan diet maupun kesehatan secara keseluruhan.


Pola makan yang seimbang, aktivitas fisik yang teratur, tidur yang cukup, serta kemampuan mengelola stres tetap menjadi fondasi utama kesehatan. Faktor-faktor tersebut memiliki pengaruh besar terhadap berat badan, metabolisme, dan risiko berbagai penyakit.


Dengan kata lain, memahami karakteristik genetik dapat membantu seseorang menentukan strategi pola makan yang lebih tepat, tetapi kebiasaan hidup sehat tetap menjadi faktor utama yang tidak bisa diabaikan.


Masa Depan Diet yang Lebih Personal


Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, pendekatan diet diperkirakan akan semakin personal. Jika sebelumnya banyak orang berfokus pada tren diet yang sedang populer, kini perhatian mulai bergeser pada pola makan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan tubuh masing-masing.


Konsep personalized nutrition membuka peluang bagi masyarakat untuk memahami tubuhnya secara lebih mendalam sehingga tidak mudah terpengaruh oleh tren yang belum tentu cocok diterapkan.


Pemahaman ini juga mengingatkan bahwa tidak ada satu metode diet yang ideal untuk semua orang. Yang terpenting adalah menemukan pola makan yang sesuai dengan kondisi tubuh, mudah dijalankan dalam jangka panjang, serta mendukung kesehatan secara menyeluruh.


Pada akhirnya, pertanyaan yang relevan bukan lagi "diet apa yang paling populer", melainkan "diet apa yang paling cocok untuk tubuh saya sendiri". Pendekatan inilah yang diyakini akan menjadi arah perkembangan dunia nutrisi di masa depan.(Rhz2797)