Gelombang panas ekstrem atau heatwave yang melanda sejumlah negara di Eropa dilaporkan telah menyebabkan sekitar 1.300 kematian berlebih sejak 21 Juni 2026. Fenomena ini memicu perhatian dunia, termasuk pertanyaan apakah kondisi serupa dapat terjadi di Indonesia.
Menanggapi hal tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa karakteristik iklim Indonesia sangat berbeda dengan Eropa sehingga peluang terjadinya heatwave seperti di kawasan tersebut sangat kecil.
BMKG Ungkap Penyebab Heatwave di Eropa
Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, mengatakan gelombang panas di Eropa dipicu oleh kombinasi pola atmosfer, letak geografis, serta dampak perubahan iklim global.
Menurutnya, salah satu penyebab utama adalah munculnya fenomena omega block dan heat dome, yang membuat udara panas dari Afrika Utara terperangkap di wilayah Eropa dalam waktu lama.
Fenomena omega block terjadi ketika aliran jet stream membentuk pola menyerupai huruf Yunani omega (Ω). Kondisi ini menciptakan area tekanan tinggi yang stabil sehingga udara panas sulit bergerak keluar dan terus menumpuk di suatu wilayah.
Sementara itu, heat dome merupakan kondisi ketika tekanan udara tinggi bertindak seperti penutup yang memerangkap udara panas di dekat permukaan bumi. Akibatnya, suhu terus meningkat karena panas matahari tidak dapat terlepas dengan mudah.
Letak Geografis Eropa Perparah Suhu Ekstrem
BMKG menjelaskan, posisi Eropa yang berada di lintang 35–55 derajat utara membuat kawasan tersebut rentan menerima aliran udara panas dari Gurun Sahara di Afrika Utara.
Saat pola atmosfer berubah, massa udara panas dapat terdorong ke wilayah Eropa dan bertahan selama beberapa hari hingga memicu lonjakan suhu yang ekstrem.
Selain faktor atmosfer, perubahan iklim juga membuat kejadian heatwave menjadi lebih sering dan lebih intens. Peningkatan suhu rata-rata di Eropa disebut mencapai sekitar 0,56 derajat Celsius per dekade, atau hampir dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global.
Berkurangnya partikel polusi udara yang sebelumnya memantulkan sebagian sinar matahari, serta menyusutnya lapisan salju dan es, juga membuat permukaan bumi menyerap lebih banyak panas sehingga suhu meningkat lebih cepat.
Apakah Heatwave Bisa Terjadi di Indonesia?
BMKG menegaskan bahwa kondisi di Indonesia berbeda jauh dengan Eropa. Sebagai negara beriklim tropis, atmosfer Indonesia cenderung lebih dinamis sehingga udara panas tidak terjebak dalam waktu lama.
Menurut Guswanto, cuaca panas yang belakangan dirasakan masyarakat Indonesia bukan termasuk fenomena heatwave.
"Gelombang panas hampir tidak terjadi di Indonesia karena atmosfer tropis berubah dengan cepat dan tidak stabil," jelasnya.
Ia menambahkan, suhu panas yang dirasakan masyarakat saat ini lebih dipengaruhi oleh gerak semu tahunan Matahari, minimnya tutupan awan, serta kondisi musim kemarau yang membuat intensitas penyinaran matahari meningkat.
Masyarakat Tetap Diimbau Waspada Cuaca Panas
Meski bukan termasuk heatwave, BMKG tetap mengimbau masyarakat untuk mewaspadai cuaca panas selama musim kemarau. Aktivitas di luar ruangan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi cuaca, menjaga kecukupan cairan tubuh, serta menggunakan pelindung seperti topi atau payung saat berada di bawah sinar matahari langsung.
Dengan karakteristik iklim tropis yang dimiliki Indonesia, fenomena cuaca panas umumnya bersifat musiman dan berbeda dengan gelombang panas ekstrem yang saat ini melanda sejumlah negara di Eropa.(Rhz2797)
