Notification

×

Iklan

Iklan

Gen Z Mulai Tinggalkan Dokter? Survei Ungkap TikTok Kini Jadi Rujukan Utama Soal Kesehatan

Juli 11, 2026 Last Updated 2026-07-11T15:02:18Z

Media sosial kini bukan sekadar tempat hiburan bagi Generasi Z (Gen Z). Platform seperti TikTok justru semakin sering dijadikan sumber utama untuk mencari informasi kesehatan, bahkan oleh sebagian anak muda dianggap lebih meyakinkan dibandingkan berkonsultasi langsung dengan dokter.


Temuan tersebut terungkap dalam survei tahunan Edelman tahun 2025 yang melibatkan lebih dari 16.000 responden berusia 18 hingga 34 tahun di 16 negara. Hasilnya menunjukkan perubahan besar dalam cara generasi muda memperoleh informasi medis di era digital.


Banyak Gen Z Lebih Percaya Media Sosial


Berdasarkan hasil survei, sekitar 45 persen responden mengaku lebih mengandalkan saran kesehatan dari teman atau keluarga dibandingkan tenaga medis.


Tak hanya itu, 38 persen responden bahkan menyatakan lebih percaya pada informasi kesehatan yang mereka temukan di media sosial dibandingkan penjelasan dokter.


Survei tersebut melibatkan responden dari Australia, Brasil, Kanada, China, Prancis, Jerman, India, Indonesia, Jepang, Meksiko, Singapura, Afrika Selatan, Korea Selatan, Uni Emirat Arab, Inggris, dan Amerika Serikat. Namun, data dari Indonesia tidak dimasukkan dalam perhitungan rata-rata global.


TikTok Jadi Tempat Mencari Diagnosis


Chief Technology Officer DRSONO Medical, dr. Charles Carlsen, mengatakan fenomena ini semakin sering ditemui di lapangan. Banyak pasien muda datang ke fasilitas kesehatan setelah lebih dulu mencari jawaban melalui TikTok atau media sosial lainnya.


Menurutnya, hampir separuh Gen Z kini lebih mengutamakan pendapat influencer maupun teman sebaya dibandingkan berkonsultasi dengan dokter sejak awal.


Survei yang sama juga menemukan sekitar 33 persen Gen Z pernah mengambil keputusan terkait kesehatannya berdasarkan saran kreator konten yang tidak memiliki latar belakang medis. Dibanding generasi yang lebih tua, kelompok ini tercatat dua kali lebih mudah dipengaruhi oleh orang tanpa kredensial kesehatan.


Influencer Semakin Berpengaruh


Dokter umum di Cassiobury Court, Inggris, dr. Olalekan Otulana, mengungkapkan banyak pasien muda datang dengan keyakinan yang sudah terbentuk setelah menonton video kesehatan di TikTok maupun Instagram.


Fenomena tersebut menunjukkan semakin besarnya pengaruh media sosial terhadap keputusan medis masyarakat, terutama di kalangan usia muda.


Di TikTok sendiri, konten bertema kesehatan berkembang sangat pesat. Tagar #medicaladvice telah digunakan puluhan ribu kali, sementara #healthtok telah menghasilkan lebih dari 150 ribu unggahan berisi berbagai tips kesehatan, pengalaman pribadi hingga dugaan diagnosis.


Risiko Misinformasi Semakin Besar


Di balik kemudahan memperoleh informasi, para ahli mengingatkan adanya ancaman serius berupa misinformasi kesehatan.


dr. Charles Carlsen menilai media sosial memang dapat menjadi ruang berbagi pengalaman, tetapi tidak dapat menggantikan diagnosis maupun pengobatan berbasis bukti ilmiah.


Ia mengaku pernah menangani pasien yang menunda pengobatan penyakit serius karena mempercayai informasi viral di internet. Akibatnya, kondisi pasien justru memburuk dan baru mendapatkan penanganan ketika sudah memasuki fase darurat.


Menurutnya, informasi yang salah dapat memicu diagnosis mandiri yang keliru, penggunaan obat yang tidak tepat, hingga keterlambatan mendapatkan terapi yang sebenarnya dibutuhkan.


Studi Ungkap Hampir Separuh Konten TikTok Tidak Akurat


Kekhawatiran tersebut diperkuat oleh penelitian University of Chicago Pritzker School of Medicine yang dipublikasikan pada 2024.


Penelitian itu menganalisis video TikTok mengenai sinusitis menggunakan tagar #sinusitis, #sinus, dan #sinusinfection. Hasilnya menunjukkan sekitar 44 persen video mengandung informasi yang tidak sesuai dengan fakta medis.


Mayoritas konten yang dinilai menyesatkan berasal dari influencer nonmedis yang memiliki jumlah pengikut besar, sementara video yang dibuat dokter dan tenaga kesehatan terbukti memiliki tingkat akurasi jauh lebih tinggi.


Penelitian tersebut juga mencatat hanya sekitar 15 persen konten dari tenaga medis yang mengandung informasi tidak akurat, jauh lebih rendah dibandingkan hampir 60 persen konten dari kreator nonmedis.


Tren Viral Bisa Berbahaya


Para peneliti mengingatkan bahwa tidak semua tips kesehatan yang viral aman untuk dicoba.


Salah satu contoh yang sempat ramai adalah memasukkan siung bawang putih ke dalam hidung untuk mengatasi hidung tersumbat. Padahal, metode tersebut tidak memiliki dasar ilmiah dan justru berisiko menyebabkan iritasi, cedera jaringan, hingga benda asing tersangkut di rongga hidung.


Fenomena seperti ini menunjukkan pentingnya memverifikasi setiap informasi kesehatan sebelum mempraktikkannya.


Dokter Diminta Lebih Aktif di Media Sosial


Para ahli menilai media sosial tetap memiliki potensi besar sebagai sarana edukasi kesehatan apabila diisi oleh informasi yang akurat dan berbasis bukti ilmiah.


Karena itu, tenaga kesehatan didorong untuk lebih aktif membuat konten edukatif agar mampu menyeimbangkan derasnya informasi yang beredar di platform digital.


Langkah serupa juga mulai dilakukan National Health Service (NHS) Inggris yang resmi meluncurkan akun TikTok untuk memberikan edukasi kesehatan berbasis fakta. Kehadiran akun tersebut menjadi bagian dari upaya melawan penyebaran misinformasi yang dinilai semakin mengkhawatirkan.


Dengan semakin tingginya ketergantungan Gen Z terhadap media sosial, masyarakat diimbau untuk tidak menjadikan konten viral sebagai dasar diagnosis atau pengobatan. Informasi yang ditemukan di internet sebaiknya selalu dikonfirmasi kepada tenaga kesehatan agar keputusan medis yang diambil tetap aman dan tepat.(Rhz2797)