Notification

×

Iklan

Iklan

IPO RANS Milik Raffi Ahmad Dibanderol Premium, Layak Diburu atau Terlalu Mahal? Ini Analisisnya

Juli 03, 2026 Last Updated 2026-07-03T08:04:49Z


 Rencana penawaran umum perdana saham (IPO) PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RANS) menjadi salah satu aksi korporasi yang paling banyak diperbincangkan di pasar modal. Perusahaan milik Raffi Ahmad dan Nagita Slavina ini menawarkan saham dengan valuasi yang tergolong premium dibandingkan emiten sejenis.


Meski memiliki nama besar dan brand yang kuat di industri hiburan, investor tetap disarankan mencermati fundamental perusahaan sebelum mengambil keputusan investasi.


Valuasi IPO RANS Jauh di Atas Rata-Rata Industri


Investment Specialist KISI Sekuritas, Ahmad Faris Mu'tashim, menilai valuasi saham RANS saat IPO berada pada level premium. Berdasarkan perhitungannya, saham perseroan diperdagangkan dengan Price to Earnings (PE) Ratio sekitar 27 hingga 35 kali.


Sebagai perbandingan, rata-rata perusahaan sejenis di industri hanya memiliki PE Ratio sekitar 12–13 kali. Hal ini membuat valuasi RANS berada jauh di atas rata-rata kompetitornya.


Meski demikian, Faris menjelaskan bahwa kondisi tersebut bukan hal yang asing karena saham yang baru melantai di bursa umumnya memang diperdagangkan dengan valuasi lebih tinggi sebagai bentuk ekspektasi terhadap pertumbuhan bisnis di masa depan.


Apa Itu PE Ratio?


PE Ratio merupakan salah satu indikator yang digunakan investor untuk menilai mahal atau murahnya harga sebuah saham dibandingkan laba bersih perusahaan.


Sebagai ilustrasi, jika harga saham Rp170 dan laba per saham (EPS) mencapai Rp10, maka PE Ratio perusahaan tersebut sebesar 17 kali. Artinya, investor bersedia membayar Rp17 untuk setiap Rp1 laba yang dihasilkan perusahaan.


Semakin tinggi PE Ratio, semakin besar pula ekspektasi pasar terhadap pertumbuhan laba perusahaan di masa mendatang. Namun apabila pertumbuhan tersebut tidak tercapai, harga saham berpotensi mengalami koreksi.


Target Dana IPO Capai Rp429 Miliar


Berdasarkan prospektus awal, RANS menawarkan maksimal 2,525 miliar saham baru atau sekitar 20,02 persen dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO.


Harga penawaran berada pada kisaran Rp135 hingga Rp170 per saham. Jika seluruh saham terserap pada harga tertinggi, perseroan berpotensi memperoleh dana segar hingga sekitar Rp429,25 miliar.


Jadwal pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) direncanakan berlangsung pada 10 Juli 2026, setelah melalui masa penawaran umum dan distribusi saham elektronik.


Pendapatan Turun, Perusahaan Masih Bukukan Laba


Di balik tingginya valuasi IPO, laporan keuangan RANS menunjukkan adanya penurunan pendapatan pada 2025.


Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp353,38 miliar, turun sekitar 13,91 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp410,50 miliar.


Meski demikian, perusahaan masih mencatat laba bersih sebesar Rp56,69 miliar, menandakan bisnis tetap menghasilkan keuntungan meskipun berada dalam fase perlambatan.


Dari sisi neraca, total aset perusahaan tercatat Rp461,03 miliar, dengan total ekuitas Rp340,80 miliar dan liabilitas sebesar Rp120,23 miliar.


Sementara itu, kas dan setara kas meningkat menjadi Rp100,13 miliar, memberikan likuiditas yang relatif baik untuk mendukung operasional perusahaan.


Penyebab Penurunan Pendapatan


Manajemen menjelaskan bahwa penurunan pendapatan terutama berasal dari melemahnya kontribusi bisnis brand ambassador dan talent management.


Pendapatan dari segmen tersebut turun lebih dari 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya.


Selain itu, penjualan produk makanan, minuman, dan kecantikan berbasis intellectual property (IP) juga mengalami penurunan.


RANS juga tidak lagi menerima kontribusi pendapatan dari segmen olahraga setelah melepas salah satu entitas usahanya pada 2024. Menurut manajemen, sebagian penurunan tersebut bersifat non-recurring, sehingga tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi operasional jangka panjang.


  • Laba Bersih Turun Lebih dari 40 Persen
  • Selain pendapatan, laba perusahaan juga mengalami penurunan.
  • Laba operasi RANS pada 2025 tercatat Rp75,55 miliar, turun sekitar 14,21 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
  • Sementara itu, laba tahun berjalan turun sekitar 41,60 persen menjadi Rp56,69 miliar.


Manajemen menjelaskan bahwa penurunan tersebut dipengaruhi oleh tidak adanya keuntungan dari transaksi pelepasan entitas anak seperti yang tercatat pada tahun sebelumnya. Selain itu, peningkatan biaya promosi, pemasaran, serta beban karyawan dari entitas yang baru diakuisisi turut menekan profitabilitas perusahaan.


Investor Perlu Fokus pada Fundamental


Valuasi premium bukan berarti suatu saham tidak menarik. Namun, harga yang tinggi harus diimbangi dengan kemampuan perusahaan mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba secara konsisten.


Bagi investor, penting untuk memperhatikan prospek bisnis RANS setelah IPO, strategi ekspansi perusahaan, serta kemampuan manajemen menjaga pertumbuhan di tengah persaingan industri hiburan yang semakin kompetitif.(Rhz2797)