Fenomena orang yang berutang justru terlihat marah atau bersikap kasar ketika ditagih kerap menjadi perbincangan di masyarakat. Tak sedikit yang menganggap perilaku tersebut sebagai bentuk ketidakbertanggungjawaban. Namun, dari sudut pandang psikologi, reaksi itu tidak selalu muncul karena karakter buruk seseorang.
Para ahli menjelaskan bahwa tekanan ekonomi dapat memengaruhi kondisi psikologis hingga cara kerja otak dalam mengendalikan emosi. Ketika seseorang merasa terdesak, malu, atau harga dirinya terancam akibat ditagih utang, respons yang muncul bisa berupa sikap defensif, termasuk kemarahan.
Stres Finansial Memengaruhi Kondisi Mental
Masalah keuangan merupakan salah satu penyebab utama stres dalam kehidupan. Tekanan akibat utang yang terus menumpuk dapat memicu kecemasan berkepanjangan, mengganggu kualitas hidup, bahkan berdampak pada kesehatan mental.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa beban utang berkaitan dengan meningkatnya tingkat kecemasan, depresi, hingga munculnya pikiran putus asa pada sebagian orang yang mengalami tekanan finansial berat.
Psikiater sekaligus dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB, dr. Riati Sri Hartini, Sp.KJ., M.Sc., menjelaskan bahwa kemarahan saat ditagih utang sering kali merupakan respons terhadap stres finansial dan rasa terancam terhadap harga diri.
Menurutnya, tekanan ekonomi yang berlangsung terus-menerus dapat menurunkan kemampuan seseorang dalam mengelola emosi dan menyelesaikan masalah secara tenang.
Otak Masuk ke Mode Bertahan Diri
Dari sisi neurosains, saat seseorang mengalami tekanan berat, bagian otak bernama amigdala akan lebih aktif karena menganggap situasi tersebut sebagai ancaman.
Di saat yang sama, fungsi prefrontal cortex, yaitu bagian otak yang berperan dalam berpikir rasional dan mengendalikan emosi, justru menurun. Kondisi ini membuat seseorang lebih mudah bereaksi secara spontan.
Akibatnya, tubuh memasuki mekanisme fight or flight atau bertahan maupun menghindar. Respons yang muncul pun cenderung defensif, emosional, bahkan agresif, bukan hasil pertimbangan yang matang.
Bukan Berarti Mengalami Gangguan Kejiwaan
Dr. Riati menegaskan bahwa sikap marah ketika ditagih utang tidak otomatis menunjukkan seseorang mengalami gangguan mental.
Dalam banyak kasus, reaksi tersebut merupakan bentuk stres yang masih tergolong normal ketika seseorang menghadapi tekanan ekonomi yang berat.
Namun, kondisi perlu mendapat perhatian apabila kemarahan muncul hampir di semua situasi, sulit dikendalikan, sampai melukai orang lain atau disertai gejala lain seperti gangguan tidur berat, rasa putus asa berkepanjangan, serta perilaku yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
Cara Terbaik Menagih Utang Tanpa Memicu Konflik
Menurut para ahli, menghadapi orang yang sedang mengalami tekanan finansial membutuhkan pendekatan yang lebih tenang.
Menggunakan nada bicara yang lembut, menghindari kata-kata yang menyudutkan, serta mengajak berdiskusi untuk mencari solusi bersama dinilai lebih efektif dibandingkan memancing perdebatan.
Pendekatan yang empatik dapat membantu menurunkan ketegangan sehingga komunikasi menjadi lebih terbuka dan peluang menemukan jalan keluar pun lebih besar.
Kasus Viral Pernah Terjadi di Gresik
Fenomena ini pernah menjadi perhatian publik setelah video perselisihan antara dua perempuan di Menganti, Gresik, viral pada 2024. Peristiwa bermula ketika seorang warga menagih utang kepada rekannya yang menunggak pembayaran.
Dalam insiden tersebut, terjadi cekcok yang berujung aksi saling dorong hingga pelemparan peralatan dapur. Berdasarkan keterangan kepolisian saat itu, utang yang dipermasalahkan berasal dari pinjaman koperasi senilai Rp4,5 juta dengan tunggakan angsuran sebesar Rp400 ribu.
Kasus tersebut akhirnya diselesaikan secara damai. Kedua belah pihak sepakat menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan setelah pihak yang berutang meminta maaf dan mengganti biaya pengobatan korban.
Fenomena orang yang marah saat ditagih utang memang tidak bisa dibenarkan. Namun, memahami faktor psikologis di balik perilaku tersebut dapat membantu masyarakat menyelesaikan persoalan dengan komunikasi yang lebih baik, tanpa memperkeruh konflik yang sudah ada.(Rhz2797)
