Di tengah perubahan dunia kerja pada 2026, muncul istilah baru yang semakin sering diperbincangkan, yaitu job hugging. Fenomena ini menggambarkan pekerja yang memilih bertahan di pekerjaan saat ini meski merasa kurang puas, kurang berkembang, atau bahkan tidak bahagia.
Tren tersebut banyak dikaitkan dengan pekerja muda, termasuk Generasi Z dan milenial, yang kini menghadapi pasar kerja lebih penuh ketidakpastian. Dibanding mengambil risiko dengan berpindah perusahaan, sebagian pekerja menilai mempertahankan penghasilan dan posisi yang sudah dimiliki merupakan pilihan yang lebih aman.
Fenomena job hugging pada dasarnya merupakan kebalikan dari job hopping. Jika job hopping menggambarkan kebiasaan berpindah pekerjaan untuk mengejar pengalaman, gaji, fleksibilitas, atau perkembangan karier, job hugging justru membuat seseorang memilih tetap berada di posisi yang sama.
Apa Itu Job Hugging?
Secara sederhana, job hugging adalah kondisi ketika seseorang tetap bertahan dalam pekerjaannya meski pekerjaan tersebut sudah tidak memberikan kepuasan seperti sebelumnya.
Pekerja mungkin merasa kurang tertantang, tidak lagi berkembang, kurang terlibat dengan pekerjaan, atau bahkan tidak bahagia. Namun, mereka tetap memilih bertahan karena perubahan pekerjaan dianggap membawa risiko yang lebih besar.
Istilah ini tidak otomatis berarti seseorang malas atau tidak memiliki ambisi. Keputusan untuk bertahan bisa dipengaruhi oleh kondisi pasar kerja, kebutuhan finansial, ketidakpastian ekonomi, hingga kekhawatiran terhadap masa depan pekerjaan.
Rebecca Houghton, pendiri BoldHR, sebelumnya menjelaskan bahwa banyak pekerja mempertahankan pekerjaannya bukan karena benar-benar menyukainya, melainkan karena alternatif yang tersedia dianggap lebih berisiko.
Mengapa Job Hugging Makin Diperbincangkan?
Salah satu penyebabnya adalah kondisi pasar kerja yang membuat pekerja semakin berhati-hati. Ketika lowongan dan aktivitas perekrutan tidak sekuat periode sebelumnya, keputusan untuk resign tanpa kepastian pekerjaan baru menjadi lebih berisiko.
Ketidakpastian ekonomi juga membuat gaji tetap dan keamanan pekerjaan memiliki nilai yang semakin besar. Bagi sebagian pekerja, pekerjaan yang sebenarnya kurang ideal masih dianggap lebih baik daripada harus kehilangan penghasilan sembari mencari pekerjaan baru.
Kekhawatiran mengenai restrukturisasi perusahaan, gelombang pemutusan hubungan kerja, serta perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang mengubah sejumlah jenis pekerjaan turut memperkuat keinginan untuk bermain aman.
Data dan laporan mengenai mobilitas kerja juga menunjukkan adanya kecenderungan pekerja menjadi lebih berhati-hati dalam berpindah pekerjaan. Di Australia, misalnya, tingkat mobilitas kerja dilaporkan turun menjadi 7,7 persen pada 2025, dibandingkan 9,6 persen pada 2023.
Job Hugging Bukan Selalu Hal Buruk
Menetap di sebuah perusahaan dalam waktu lama tidak serta-merta berarti seseorang sedang mengalami job hugging yang tidak sehat.
Ada pekerja yang memang memilih bertahan karena pekerjaannya memberikan stabilitas dan memungkinkan mereka memprioritaskan keluarga, pendidikan, bisnis sampingan, atau minat pribadi.
Dalam situasi seperti itu, keputusan untuk tidak resign merupakan pilihan sadar. Seseorang mungkin mengetahui bahwa pekerjaannya tidak sempurna, tetapi tetap menilai manfaat yang diperoleh lebih besar daripada keuntungan jika pindah.
Karena itu, hal yang membedakan keputusan bertahan secara sehat dengan job hugging bukan hanya berapa lama seseorang bekerja di satu perusahaan, melainkan alasan psikologis di balik keputusan tersebut.
Ketika Bertahan Justru Bisa Menjadi Masalah
Masalah muncul ketika seseorang bertahan semata-mata karena takut menghadapi ketidakpastian. Dalam kondisi tersebut, pekerjaan bukan lagi dipilih karena sesuai dengan kebutuhan atau tujuan hidup, melainkan karena perubahan terasa terlalu menakutkan.
Psikolog klinis Dr. Kaitlin Harkess mengingatkan bahwa ketidakcocokan pekerjaan yang dibiarkan terlalu lama berpotensi memengaruhi kepercayaan diri dan motivasi. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut juga dapat berkaitan dengan kelelahan kerja atau burnout.
Risiko lainnya adalah stagnasi karier. Seseorang mungkin tetap memperoleh gaji setiap bulan, tetapi kehilangan kesempatan untuk mempelajari keterampilan baru, mendapatkan tanggung jawab lebih besar, atau memasuki bidang yang sebenarnya lebih sesuai dengan potensinya.
Semakin lama seseorang merasa terjebak, keputusan untuk berubah juga dapat terasa semakin sulit.
Bagaimana Membedakan Job Hugging dengan Pilihan Karier yang Sadar?
Tidak semua pekerja yang enggan resign sedang mengalami job hugging. Ada beberapa pertanyaan yang bisa membantu seseorang mengevaluasi keputusannya.
Jika bertahan karena pekerjaan tersebut memang sesuai dengan kebutuhan hidup, memberikan keamanan finansial, dan masih memungkinkan perkembangan diri, keputusan tersebut bisa menjadi pilihan yang rasional.
Sebaliknya, jika seseorang terus bertahan karena takut tidak mendapatkan pekerjaan lain, merasa tidak berdaya untuk berubah, atau terus mengalami ketidakpuasan tanpa melakukan evaluasi, kondisi tersebut patut diperhatikan.
Dengan kata lain, bertahan karena memilih berbeda dengan bertahan karena takut.
Job Hugging dan Masa Depan Dunia Kerja
Fenomena job hugging menunjukkan bahwa persepsi terhadap karier telah mengalami perubahan. Jika sebelumnya berpindah pekerjaan sering dipandang sebagai strategi untuk mempercepat karier, kini sebagian pekerja justru lebih mempertimbangkan stabilitas.
Tren ini juga menjadi tantangan bagi perusahaan. Karyawan yang tetap berada di perusahaan bukan berarti otomatis memiliki tingkat loyalitas tinggi. Jika mereka bertahan hanya karena kondisi pasar kerja membuat mereka takut pindah, ada kemungkinan mereka akan mencari peluang baru ketika situasi membaik.
Karena itu, perusahaan perlu membangun lingkungan kerja yang membuat karyawan ingin bertahan, bukan sekadar membuat mereka merasa tidak memiliki pilihan lain.
Pada akhirnya, job hugging bukan sekadar tren baru di dunia kerja. Fenomena ini mencerminkan bagaimana pekerja menghadapi ketidakpastian ekonomi, perkembangan AI, perubahan kebutuhan hidup, dan pertanyaan besar mengenai masa depan karier.
Bagi Gen Z dan milenial, pilihan untuk bertahan atau pindah kerja kini tidak lagi sesederhana mengejar gaji dan jabatan. Faktor keamanan, kesehatan psikologis, fleksibilitas, serta peluang berkembang ikut menentukan langkah karier yang akan diambil.(Rhz2797)
