Insiden penembakan mengguncang Sekolah Debsirin Nonthaburi di Nonthaburi, Thailand, pada Jumat, 7 Agustus 2026. Peristiwa tersebut menyebabkan sedikitnya delapan orang meninggal dunia dan lebih dari 20 orang lainnya mengalami luka-luka.
Polisi menduga aksi tersebut dilakukan oleh seorang siswa laki-laki berusia 14 tahun yang masih duduk di kelas 9 sekolah tersebut. Menurut keterangan awal kepolisian, korban tewas terdiri dari sejumlah guru, anggota keluarga pelaku, serta seorang siswa yang kemudian meninggal akibat luka yang dialaminya.
Peristiwa ini sontak membuat suasana sekolah berubah menjadi kepanikan. Staf sekolah berupaya mengevakuasi siswa dari ruang kelas, sementara petugas kepolisian dikerahkan untuk mengamankan area dan mencari pelaku.
Siswa Berusaha Menyelamatkan Diri
Kesaksian sejumlah siswa menggambarkan kepanikan yang terjadi ketika suara letusan terdengar di lingkungan sekolah.
Seorang pelajar mengatakan dirinya sempat mengira suara tersebut berasal dari benda lain karena tidak menyangka sedang terjadi penembakan. Setelah suara letusan kembali terdengar, siswa mulai menyadari adanya bahaya dan berusaha meninggalkan lokasi.
Dalam situasi tersebut, sejumlah siswa berlari keluar dari area sekolah. Bahkan, seorang siswi mengaku harus memanjat pagar sekolah bersama teman-temannya untuk menyelamatkan diri.
Korban luka kemudian mendapat pertolongan awal dari tim medis sebelum dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Polisi Ungkap Dugaan Kronologi
Berdasarkan penyelidikan awal kepolisian Thailand, pelaku diduga terlebih dahulu mendatangi sekolah menggunakan bus sekolah setelah sebelumnya berada di rumah bersama kakek dan neneknya.
Pelaku kemudian mengikuti kegiatan belajar mengajar seperti biasa. Beberapa waktu setelah pelajaran berlangsung, terjadi aksi penembakan di lingkungan sekolah.
Kepolisian menyebut sejumlah guru menjadi sasaran dalam kejadian tersebut. Petugas kemudian bergerak ke sekolah setelah menerima laporan mengenai penembakan.
Pelaku akhirnya ditemukan oleh polisi dalam kondisi sudah meninggal akibat tindakan yang dilakukannya sendiri. Aparat kemudian melakukan pengamanan dan penyelidikan di lokasi kejadian.
Senjata Disebut Milik Kakek Pelaku
Polisi juga tengah menyelidiki asal senjata api yang digunakan dalam insiden tersebut. Berdasarkan keterangan awal, senjata yang digunakan merupakan milik kakek pelaku dan disebut terdaftar secara legal.
Kakek pelaku diketahui berprofesi sebagai guru. Polisi menduga senjata tersebut diambil dari tempat penyimpanannya di rumah.
Keterangan mengenai kepemilikan senjata tersebut kini menjadi bagian penting dalam penyelidikan, terutama untuk mengetahui bagaimana seorang remaja dapat mengakses senjata api tersebut.
Pelaku Dikenal Berprestasi
Di tengah penyelidikan, sejumlah informasi mengenai pelaku mulai terungkap. Seorang guru di sekolah tersebut menggambarkannya sebagai siswa yang dikenal baik dan memiliki prestasi akademik.
Guru tersebut juga menyebut tidak mengetahui adanya riwayat perilaku agresif dari pelaku sebelum kejadian.
Pelaku diketahui tinggal bersama kakek dan neneknya setelah kedua orang tuanya bercerai. Polisi juga menemukan sejumlah bukti di rumah pelaku yang masih diperiksa untuk mengetahui latar belakang dan faktor yang mungkin berkaitan dengan peristiwa tersebut.
Thailand Kembali Dihadapkan pada Isu Senjata Api
Penembakan di Debsirin Nonthaburi menjadi perhatian besar karena merupakan insiden penembakan di lingkungan sekolah yang kembali terjadi di Thailand pada 2026.
Sebelumnya, pada Februari 2026, insiden penembakan juga terjadi di sebuah sekolah di wilayah Thailand bagian selatan. Peristiwa tersebut kembali memunculkan perdebatan mengenai pengawasan dan akses terhadap senjata api.
Thailand diketahui memiliki aturan terkait kepemilikan senjata. Namun, aparat masih menghadapi tantangan dalam mencegah peredaran serta penggunaan senjata secara ilegal.
Kasus-kasus penembakan yang terjadi berulang kali membuat persoalan kepemilikan senjata menjadi sorotan publik dan pemerintah.
PM Thailand Janji Perketat Aturan Senjata
Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul menyatakan pemerintah akan memperketat aturan mengenai kepemilikan dan membawa senjata api di tempat umum setelah tragedi tersebut.
Pemerintah berencana mengajukan regulasi yang lebih ketat. Salah satu gagasannya adalah membatasi siapa saja yang diperbolehkan membawa senjata api di ruang publik, dengan pengecualian bagi pejabat pemerintah yang sedang menjalankan tugas.
Anutin menyampaikan keprihatinannya atas tragedi tersebut dan menegaskan bahwa kejadian serupa tidak seharusnya terjadi.
Pemerintah Thailand sebelumnya juga telah mengambil sejumlah langkah untuk memperketat pengendalian senjata, termasuk pembatasan penerbitan izin baru dan pengawasan terhadap impor senjata api.
Kini, penyelidikan atas penembakan di Sekolah Debsirin Nonthaburi masih berlangsung. Selain mengungkap rangkaian kejadian, aparat juga berupaya memastikan bagaimana senjata tersebut dapat diakses oleh pelaku serta faktor yang melatarbelakangi tragedi tersebut.(Rhz2797)
