Notification

×

Iklan

Iklan

Benarkah Penderita Diabetes Harus Minum Obat Seumur Hidup? Ini Penjelasannya

September 24, 2026 Last Updated 2026-09-24T07:55:09Z


Anggapan bahwa seseorang yang terkena diabetes harus mengonsumsi obat atau menggunakan insulin seumur hidup masih banyak beredar di masyarakat. Padahal, kondisi setiap pasien diabetes berbeda dan kebutuhan pengobatannya perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.


Pakar diabetes sekaligus Founder mGanik, dr Kelvin Candiago, menjelaskan bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat, khususnya pada sebagian pasien diabetes tipe 2.


Hal itu disampaikan dr Kelvin saat menjadi narasumber dalam program detikPagi. Ia menyoroti semakin banyaknya kasus diabetes yang ditemukan pada usia produktif, termasuk pada kelompok usia 20-an.


Gaya Hidup Sehat Tak Hanya soal Olahraga


Menurut dr Kelvin, sebagian anak muda merasa telah menjalani gaya hidup sehat karena rutin berolahraga, seperti bermain padel atau pergi ke gym. Namun, aktivitas fisik saja belum tentu cukup jika tidak diimbangi dengan pola makan dan kebiasaan sehari-hari yang baik.


Ia menemukan ada orang yang sudah mengurangi konsumsi minuman manis, tetapi masih sering begadang, kurang bergerak di luar waktu olahraga, serta memiliki pola makan yang tidak teratur.


Jika berlangsung dalam jangka panjang, berbagai kebiasaan tersebut dapat berkontribusi terhadap resistensi insulin, yaitu kondisi ketika tubuh merespons insulin dengan kurang efektif sehingga pengaturan kadar gula darah menjadi lebih sulit.


Kasus Diabetes di Indonesia Terus Menjadi Perhatian


Masalah diabetes juga menjadi perhatian karena jumlah penyandangnya cukup besar di Indonesia.


Berdasarkan IDF Diabetes Atlas edisi ke-11, pada 2024 diperkirakan terdapat sekitar 20,43 juta orang dewasa berusia 20–79 tahun yang hidup dengan diabetes di Indonesia. Prevalensi diabetes pada kelompok usia tersebut diperkirakan mencapai 11,3 persen.


Namun, persoalan diabetes bukan hanya mengenai jumlah kasus. Pengendalian gula darah yang tidak optimal dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi.


“Yang ditakuti dari diabetes itu komplikasinya. Padahal sebelum itu terjadi, mereka sudah mengalami diabetes yang panjang dulu,” ujar dr Kelvin.


Ia menjelaskan diabetes dapat berdampak pada pembuluh darah sehingga kerusakan dapat berkembang tanpa selalu menimbulkan gejala yang terasa jelas pada awalnya.


Diabetes Tipe 2 dan Peluang Remisi


Sebagian besar kasus diabetes merupakan diabetes tipe 2. Kondisi ini berkaitan dengan berbagai faktor, termasuk faktor genetik, berat badan, pola makan, aktivitas fisik, dan faktor gaya hidup lainnya.


Kabar baiknya, pada sebagian orang dengan diabetes tipe 2, perbaikan kondisi metabolik hingga mencapai remisi diabetes dapat terjadi melalui intervensi tertentu, termasuk perubahan gaya hidup dan penurunan berat badan.


American Diabetes Association (ADA) bersama organisasi profesi terkait mendefinisikan remisi diabetes tipe 2 sebagai kondisi ketika HbA1c turun menjadi di bawah 6,5 persen dan bertahan setidaknya tiga bulan tanpa obat penurun gula darah.


Namun, remisi bukan berarti diabetes telah “sembuh permanen”. Kondisi tersebut tetap membutuhkan pemantauan karena kadar gula darah dapat kembali meningkat.


Karena itu, pasien tidak dianjurkan menghentikan obat diabetes secara mandiri hanya karena kadar gula darah sudah membaik. Keputusan mengenai pengurangan atau penghentian obat harus dilakukan bersama dokter.


Atur Karbohidrat dan Perbanyak Serat


Dr Kelvin menyarankan perubahan pola makan dilakukan secara bertahap dan konsisten.


Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengurangi jumlah karbohidrat atau tambahan gula dalam makanan, sekaligus memperhatikan asupan protein dan serat.


“Paling nggak di setiap makanan, jumlah karbohidrat atau tambahan gulanya dikurangi. Perbanyak protein, cukupi serat, karbohidratnya dibatasi,” kata dr Kelvin.


Ia juga memberikan tips bagi orang yang ingin mengonsumsi camilan atau makanan penutup. Konsumsinya dapat ditempatkan setelah makanan utama agar porsinya lebih mudah dikendalikan.


HbA1c Penting untuk Memantau Kondisi Diabetes


Salah satu pemeriksaan penting dalam pengelolaan diabetes adalah HbA1c. Pemeriksaan ini memberikan gambaran rata-rata kadar gula darah dalam beberapa bulan terakhir.


Meski demikian, target HbA1c tidak selalu sama untuk setiap pasien. Standar perawatan diabetes ADA 2026 menyebut target HbA1c perlu disesuaikan dengan kondisi dan risiko masing-masing individu; untuk banyak orang dewasa nonhamil, target yang umum digunakan adalah di bawah 7 persen.


Sementara itu, angka di bawah 6,5 persen dalam konteks remisi merupakan kriteria khusus yang harus dicapai tanpa obat penurun gula darah dan dipertahankan setidaknya tiga bulan.


Konsistensi Lebih Penting daripada Perubahan Drastis


Untuk membantu pasiennya mengelola diabetes, dr Kelvin mengembangkan pendekatan mGanik yang mencakup medikasi, nutrisi, dan monitoring.


Pendekatan tersebut dilakukan dengan menyesuaikan kondisi setiap pasien, termasuk memantau perkembangan HbA1c, memperbaiki pola makan, serta melakukan pemantauan secara berkala.


Menurutnya, perubahan gaya hidup tidak harus dilakukan secara ekstrem. Hal yang lebih penting adalah kemampuan pasien mempertahankan kebiasaan sehat dalam jangka panjang.


“Jangan putus asa, karena pasti ada jalannya. Percaya aja harus kasih perubahan di pola makan, ikutin saran-saran dari dokternya,” ujar dr Kelvin.


Ia menekankan bahwa perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan manfaat dalam pengelolaan diabetes.


Jadi, tidak semua penderita diabetes otomatis harus minum obat seumur hidup, tetapi tidak semua pasien juga dapat berhenti menggunakan obat. Pada diabetes tipe 2, sebagian pasien dapat mencapai remisi, namun kondisi tersebut membutuhkan kriteria medis yang jelas dan tetap harus dipantau oleh tenaga kesehatan.(Rhz2797)