Notification

×

Iklan

Iklan

Jangan Salah Paham! 5 Mitos Diabetes Tipe 2 Ini Masih Banyak Dipercaya

April 18, 2026 Last Updated 2026-04-18T00:25:43Z

Kasus diabetes melitus tipe 2 di Indonesia terus meningkat dan menjadi perhatian serius di sektor kesehatan. Namun di tengah tingginya jumlah penderita, masih banyak masyarakat yang percaya pada berbagai mitos seputar penyakit ini, mulai dari soal konsumsi gula hingga pengobatan yang dianggap berbahaya.


Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi diabetes melitus mencapai 11,7 persen atau setara dengan sekitar 30 juta penduduk. Tingginya angka ini juga dibarengi dengan maraknya disinformasi yang beredar di media sosial maupun percakapan sehari-hari.


Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PB PERKENI), Prof. Dr. dr. Em Yunir, SpPD, K-EMD, FINASIM, menjelaskan bahwa pemahaman keliru tentang diabetes dapat menghambat penanganan medis sejak dini dan meningkatkan risiko komplikasi serius.


Berikut lima mitos diabetes tipe 2 yang masih banyak dipercaya masyarakat beserta faktanya.


1. Penderita diabetes tidak boleh konsumsi gula sama sekali


Banyak orang mengira bahwa setelah didiagnosis diabetes, seseorang tidak boleh lagi mengonsumsi makanan manis seumur hidup. Faktanya, penderita diabetes masih diperbolehkan mengonsumsi gula dalam jumlah terbatas dan terkontrol.


Penggunaan gula rendah kalori atau pemanis dengan kandungan kalori lebih rendah dapat menjadi pilihan. Batas konsumsi yang disarankan umumnya hanya sekitar satu sendok teh sebagai penyedap, sementara minuman tinggi gula sebaiknya dihindari.


2. Diabetes hanya menyerang orang gemuk


Anggapan bahwa diabetes hanya dialami oleh orang dengan berat badan berlebih juga tidak sepenuhnya benar. Memang, obesitas dapat meningkatkan risiko resistensi insulin karena penumpukan lemak tubuh.


Namun, orang dengan berat badan normal tetap bisa terkena diabetes jika pola makan tidak sehat, aktivitas fisik rendah, dan asupan kalori tidak seimbang. Karena itu, semua orang tetap perlu menjaga gaya hidup sehat.


3. Diabetes adalah penyakit orang tua


Dulu diabetes lebih banyak ditemukan pada usia lanjut, namun kondisi saat ini sudah sangat berbeda. Kini, usia 20-an bahkan remaja juga mulai banyak terdiagnosis diabetes tipe 2.


Perubahan gaya hidup, konsumsi makanan tinggi gula, kurang olahraga, dan kebiasaan nongkrong dengan minuman manis menjadi salah satu pemicu meningkatnya kasus pada usia produktif.


Faktor keturunan juga bukan berarti seseorang pasti terkena diabetes, tetapi menjadi tanda bahwa risiko lebih tinggi sehingga perlu menjaga kesehatan lebih disiplin.


4. Diabetes tidak bisa membaik


Sebagian pasien merasa putus asa karena menganggap diabetes tidak akan pernah membaik. Padahal, secara medis dikenal istilah diabetes remisi, yaitu kondisi ketika kadar gula darah kembali normal melalui pengelolaan yang tepat.


Kunci utama remisi adalah disiplin menurunkan lemak visceral, menjaga pola makan, rutin berolahraga, dan mengikuti terapi medis yang dianjurkan dokter. Bahkan penggunaan insulin pada fase awal tertentu justru bisa mempercepat perbaikan kondisi tubuh.


5. Obat diabetes menyebabkan gagal ginjal


Ini menjadi salah satu mitos paling berbahaya. Banyak pasien takut minum obat rutin karena khawatir ginjal rusak. Faktanya, kerusakan ginjal justru lebih sering terjadi karena kadar gula darah tinggi yang tidak terkontrol dalam waktu lama.


Jika gula darah tidak dikelola dengan baik, pembuluh darah di ginjal akan rusak lebih cepat dan memicu gagal ginjal kronis. Karena itu, menghentikan pengobatan tanpa pengawasan dokter justru sangat berisiko.


Direktur P2PTM Kemenkes RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, menyebut jumlah penderita gagal ginjal meningkat hampir 40 persen. Bahkan biaya penanganan gagal ginjal dari tahun 2019 hingga 2025 melonjak hingga 478 persen.


Hal ini menjadi bukti bahwa pengabaian terhadap pengobatan diabetes dapat berdampak besar, tidak hanya bagi kesehatan pasien tetapi juga terhadap pembiayaan kesehatan nasional.


Memahami fakta yang benar tentang diabetes tipe 2 menjadi langkah penting agar masyarakat tidak terlambat mendapatkan penanganan dan terhindar dari komplikasi yang lebih serius.(Rhz2797)